Minggu, 10 Mei 2020

Keliru

Keputusanku untuk jatuh hati padamu adalah sebuah kekeliruan yang bahkan tak pernah kusesali, bahkan hingga saat dimana kau tetap abai, aku tak pernah sekalipun ingin pergi, biar kutanggung duka, kau tak harus mengkhawatirkannya...

Aku kira, dengan bertumpu padamu, kau bersedia dibuat repot, bersedia dijadikan bahu untuk bersembunyi dari hal-hal yang aku butuh merasa aman karenamu.. Tapi nyatanya aku salah besar, dengan menumpu diriku pada bahumu hanya akan membuat lebih mengulang duka, aku tau kau tidak selalu bisa memenuhi keinginan siapa saja, terlebih aku yang bukan apa-apa. 

Kalau nanti kau merasa terbebani karena harapku yang keterlaluan padamu, jangan takut, aku sudah biasa mengikis keinginan pelan-pelan. Tentunya akan sangat berat dan menyesakkan, tapi rasanya terlalu tidak tahu diri jika sudah tahu merepotkan tapi masih saja mengais harap, aku tidak mau keterlaluan untuk kesekian kalinya.

...semoga hal-hal baik selalu dimudahkan, untukmu, untuk siapapun...
Cikarang, 11 Mei 2020

Selasa, 21 April 2020

Sajak Sajak untuk S.

Sajak Sajak untuk S

Kepada S,
aku merekam jelas saat pertama tatapmu jatuh kepadaku,
aku menyimpan rahasia bahkan tidak seorangpun tau, apalagi kamu

berpuluh malam aku berkutat pada sajak sajak yang bahkan belum kumulai, dari kali pertama tak bisa lupa, hingga sekarang tak mampu kemana-mana.

S, rasanya sudah tak perlu aku berjalan semauku, rasanya sudah tak ada lagi yang aku cari,
setiap kali aku hendak berlalu, kau lalu lalang di kepalaku,
setiap kali aku mencoba tak peduli, kau datang lagi dan lagi
sepekan kemudian, aku memasrahkan apa-apa yang nyatanya memang harus tetap disini; perasaan yang kukira akan memudar, justru kian berpendar, menyebalkan memang, saat kau memilih mengabaikan semua gerakku, aku tetap bersikukuh ingin denganmu.

Tuan S,
aku ingin pagi, sore, malam ada kau didalamnya, aku ingin merengek perihal jam tidurku yang belum kembali normal, aku ingin mengadu tentang siklus datang bulanku yang sudah membaik, aku ingin ke atas awan naik campervan yang sudah kau modifikasi dengan sangat apik,
aku mau jadi tahun-tahunmu, aku mau merayakan apapun, aku mau makan mie instan, aku mau menyediakan teh manis dengan sedikit gula di teras kita sembari menanti surya tenggelam.
aku mau, aku mau denganmu, Tuan S.

S,
kalau nanti, kita punya dimensi yang berbeda tentang hidup bersama, aku mau berada dalam dekapmu--fantasi terasyik yang tak pernah kuduga.




Cikarang, 21 April 2020.

Rabu, 12 Februari 2020

Setahun berlalu, pada hati yang baru, apa yang akan kau ceritakan tentangku?

Kurang dari sewindu, acuhku berlalu, binar yang agaknya biasa saja, justru meracau menangkapku. Perasaan yang belum kuberi judul ini, lambat laun bergerak tanpa aba-aba, kau yang belum kuingat persis, perlahan mulai merambat tanpa basa-basi.

Bertahanlah lebih lama, tersebab degup yang kurasa masih butuh dekapmu, tersebab kau, rona kedua pipi terbentuk rapi.

Jangan beranjak, jangan dulu, apalagi memutar posisi, aku masih ingin merekam rautmu dalam ingatan, beberapa yang usang, hilang.

Nanti, setahun berlalu, di tempat yang baru, apa yang akan kau ceritakan tentangku?
Atau,
Pada hati yang baru, apa yang akan kau sampaikan padanya?




Cikarang, Februari 2020

:')

Kita tidak perlu jadi dua manusia yang mengabadikan hari jadinya, bukan?
Kita tidak perlu ngotot ingin dipanggil sayang, bukan begitu?

Jika ada waktu luang, lemparkan saja senyum, itu sudah cukup membuatku lega, bahwa kau tidak akan kemana mana,
atau sekedar memberi isyarat bahwa kau ada di belahan bumi.


Kalau aku, terserah Allah saja.



Cikarang, Februari 2020.

Aku akan menemuimu...

Aku akan menemuimu, di awal musim penghujan entah ditahun yang keberapa, setelah kita sudah benar-benar rela, sudah lupa bagaimana bisa saling menaruh perasaan.
Aku akan menawarkan sebuah payung untukmu yang menggigil diterpa hujan deras sejak pagi, aku tau kau akan menolaknya, kau akan pura-pura tak menyadari keberadaanku; yang dengan tega melepasmu saat itu, saat dimana tak ada telinga yang dengan jelas mendengar keluhmu, dada bidang yang dengan lapang menerima gusarmu.

Aku tau tidak ada yang lebih hangat dari kita yang tetap utuh, aku tau tidak ada yang lebih menyerap gigil dari kau yang terus menerus menahanku.
Dan,


.....dan, aku akan menemuimu dikerumunan manusia yang katamu bernyawa namun tak bisa diajak bicara, aku akan menelusuri kedai mie favoritmu selepas petang, mungkin aku tidak akan menyerah karena berkali-kali tidak pula kudapati kau duduk termenung disana,
aku akan memesan satu meja dengan kedua kursi yang saling berhadapan, membayangkan gerakmu yang seringkali harus menaruh duka sekian lama hanya karena aku memutuskan untuk membuat jarak diantara kita.

....selepas itu, aku akan mengunjungi toko buku langgananmu, mataku langsung tertuju pada stand buku yang tertumpuk jutaan puisi karya manusia bernyawa dan menyenangkan membaca celotehnya katamu, aku akan menghabiskan waktu berlama-lama disana, seperti yang kau lakukan dulu setiap kita pergi bersama, dan aku menunggu dengan kesal sambil sesekali membuka buku tanpa membacanya. Hey kau tau?

Aku membeli sebuah buku puisi yang kau inginkan sejak lama, waktu itu stoknya habis, kau bilang kita akan kesini lagi, tapi aku ingkar terhadapmu, kau terlanjur kecewa.
Atau,


....atau, Aku akan menemuimu; diatas bianglala ketika langit berwarna merah muda, merapal do'a dengan harapan kau datang tanpa sengaja, aku penakut dengan ketinggian, hanya karena kau merengek ingin naik bianglala, aku jadi manusia berani yang memendam rasa takutnya demi kau berhenti menekuk wajahmu.
Ini tujuan terakhirku, kalau sampai matahari terbenam, tidak pula kutemui kau, aku akan pulang, aku akan menemukan dekapmu yang telah lama kuabaikan--entah dimana pun.
Cikarang, Februari 2020.

Jumat, 02 Agustus 2019

:)

2 tahun berlalu. Nyatanya sesakku belum juga pulih. Dan saat itu, aku seolah punya pundak yang kokoh, telinga yang sudi dibuat gaduh, bahkan nyaris setiap malam. 
Aku bercerita banyak tentang hidupku, tentang seseorang yang kini singgah di hatiku, namun ingin sekali kulepaskan... Kau baik, mau tersita waktumu hanya karena aku yang merengek. Kau baik, mau ikut terbenam dalam luka-luka yang tak sepatutnya kau pedulikan. 

Lihatlah, betapa insecure nya aku saat itu, dan betapa repotnya kau terhadap aku. 

Dalam hitungan hari, ada beberapa keputusan yang kubuat; pertama, aku telah sadar betul pentingnya mencintai diri sendiri dan aku memutuskan meninggalkan semua luka, kedua, aku melapangkan hatiku seluas mungkin atas kemungkinan terburuk yang akan terjadi, dan ketiga, aku menjatuhkan hatiku.... padamu.


Sejak saat itu, mengutarakan sesuatu menjadi hal paling luarbiasa, membiarkan kau tau tepian hatiku telah sampai padamu--kali pertama obrolan kita membekas di dadaku. Dan kejujuran jadi nilai tambah bagi seseorang. Aku tanamkan itu sampai saat ini. 
Kita memihak pada waktu yang kita anggap benar, kita memilih dekat, sangat dekat, walaupun hitungan jarak tak sedekat yang kita bayangkan. Sungguh, aku tak pernah memintamu untuk meninggalkan kekasihmu, terlebih lagi dia selalu kau bangga-banggakan dalam setiap baris chat yang kau kirim. Tapi semesta berkata lain, kau mengalihkan pandangmu kepadaku, perempuan cengeng yang bisanya hanya membahas cecintaan. 

Aku sempat tidak yakin dengan hubungan jarak jauh, dengan kesungguhan yang kau sampaikan dalam jangka waktu yang sangat pendek. Namun, alih alih meminta kau pergi, aku malah membiarkan kau ada setiap waktu. 

Percayalah, aku jadi pemberani sejak saat kau hidupkan lagi aku. 

"Aku mau terus jujur bagaimanapun keadaannya" kau tersenyum manis mendengar ucapku, terdengar tawa halusmu dari ujung telepon. 

Sampai detik dimana aku semakin percaya, semakin mau menghilangkan curiga, ego, kau justru diam-diam mematahkan harapku yang terlanjur membumbung tinggi. Katamu, aku harus tetap percaya. percaya atas semua kesalahan yang kau ulangi terus menerus? 
"Aku mau terus jujur sekalipun kau tak suka" suaraku terdengar sangat kencang dibalik teleponmu. 





Petang ini, aku menyendiri, menuai harap dan membuangnya jauh-jauh. 
"Aku mau terus jujur........." kataku pada diriku sendiri. 







Cikarang, 2019

:)

Jauh sebelum bertemu denganmu, aku pernah berharap sangat dalam pada seseorang, dan harapanku tak berbuah manis. Aku pernah merelakan bahagiaku yang hampir sempurna demi dia yang kukira akan membawaku lari dari ketidaknyamanan ini. Dan begitu pula dengan semua yang kukorbankan demi bisa meraihnya. Padahal cukup mudah, hanya saja ia yang tak mau diraih--mengelak atas kesepakatan yang telah kami setujui, lalu dia mengingkari dengan mudahnya. 

Sepekan setelah cincin melingkar dijariku, aku masih mengutarakan janji pada seseorang lain, bahkan yang tidak pernah berani menemui orangtuaku atau sekedar berkunjung. Aku berdusta pada perasaanku, aku telah berbohong pada tiap-tiap hati yang tulus. Hingga akhirnya, beberapa bulan telah aku lewati dengan keraguan yang amat besar, dengan kerinduan yang tak seharusnya aku ingat sampai detik itu, kerinduan akan seseorang yang memutuskan pergi disaat aku masih berusaha merayu Tuhanku sambil  menangis-nangis.

Di penghujung tahun, aku merelakan bahagia demi bahagia yang fana, demi dia yang baru kukenal. Dia datang memberiku harapan, menunjukanku betapa asyiknya obrolan manusia yang usianya tak terpaut jauh--bukan obrolan yang itu itu saja. Dia mengacaukan akal sehatku, mengambil keputusan secepat kilat demi bersamanya. 

Separuh warasku direnggutnya, bagaimana mungkin aku yang telah siap didatangi banyak orang hanya untuk mengantarkan seorang lelaki berani, begitu tega menggantinya dengan manusia antah berantah yang menyuguhkan harap serta nyaman yang terlampau batas. 

Dan setelah ia memilih pergi, tanpa mau tau betapa hancurnya aku, aku masih tetap mengusahakannya pada Tuhan. Kekeliruan yang kubuat atas dasar ketidakwarasanku saat itu memang betul betul mengecewakan banyak kepala. 

Hingga pada akhirnya, aku kehilangan yang satu; lelaki berani dan taat pada Tuhannya. dan yang satunya menghilangkan dirinya sendiri dari hadapku. 

Kini aku tumbuh lebih waspada. Aku mau lebih perempuan; punya hati dan logika, yang keduanya dipergunakan sebagaimana mestinya. 





Cikarang, 2019

Keliru

Keputusanku untuk jatuh hati padamu adalah sebuah kekeliruan yang bahkan tak pernah kusesali, bahkan hingga saat dimana kau tetap abai, aku...