Kurang dari sewindu, acuhku berlalu, binar yang agaknya biasa saja, justru meracau menangkapku. Perasaan yang belum kuberi judul ini, lambat laun bergerak tanpa aba-aba, kau yang belum kuingat persis, perlahan mulai merambat tanpa basa-basi.
Bertahanlah lebih lama, tersebab degup yang kurasa masih butuh dekapmu, tersebab kau, rona kedua pipi terbentuk rapi.
Jangan beranjak, jangan dulu, apalagi memutar posisi, aku masih ingin merekam rautmu dalam ingatan, beberapa yang usang, hilang.
Nanti, setahun berlalu, di tempat yang baru, apa yang akan kau ceritakan tentangku?
Atau,
Pada hati yang baru, apa yang akan kau sampaikan padanya?
Cikarang, Februari 2020
Sederhana dan biasa-biasa saja. Sesekali bersantailah di depan terasmu, aku menuliskan sesuatu untukmu.
Rabu, 12 Februari 2020
:')
Kita tidak perlu jadi dua manusia yang mengabadikan hari jadinya, bukan?
Kita tidak perlu ngotot ingin dipanggil sayang, bukan begitu?
Jika ada waktu luang, lemparkan saja senyum, itu sudah cukup membuatku lega, bahwa kau tidak akan kemana mana,
atau sekedar memberi isyarat bahwa kau ada di belahan bumi.
Kalau aku, terserah Allah saja.
Cikarang, Februari 2020.
Kita tidak perlu ngotot ingin dipanggil sayang, bukan begitu?
Jika ada waktu luang, lemparkan saja senyum, itu sudah cukup membuatku lega, bahwa kau tidak akan kemana mana,
atau sekedar memberi isyarat bahwa kau ada di belahan bumi.
Kalau aku, terserah Allah saja.
Cikarang, Februari 2020.
Aku akan menemuimu...
Aku akan menemuimu, di awal musim penghujan entah ditahun yang keberapa, setelah kita sudah benar-benar rela, sudah lupa bagaimana bisa saling menaruh perasaan.
Aku akan menawarkan sebuah payung untukmu yang menggigil diterpa hujan deras sejak pagi, aku tau kau akan menolaknya, kau akan pura-pura tak menyadari keberadaanku; yang dengan tega melepasmu saat itu, saat dimana tak ada telinga yang dengan jelas mendengar keluhmu, dada bidang yang dengan lapang menerima gusarmu.
Aku tau tidak ada yang lebih hangat dari kita yang tetap utuh, aku tau tidak ada yang lebih menyerap gigil dari kau yang terus menerus menahanku.
Dan,
.....dan, aku akan menemuimu dikerumunan manusia yang katamu bernyawa namun tak bisa diajak bicara, aku akan menelusuri kedai mie favoritmu selepas petang, mungkin aku tidak akan menyerah karena berkali-kali tidak pula kudapati kau duduk termenung disana,
aku akan memesan satu meja dengan kedua kursi yang saling berhadapan, membayangkan gerakmu yang seringkali harus menaruh duka sekian lama hanya karena aku memutuskan untuk membuat jarak diantara kita.
....selepas itu, aku akan mengunjungi toko buku langgananmu, mataku langsung tertuju pada stand buku yang tertumpuk jutaan puisi karya manusia bernyawa dan menyenangkan membaca celotehnya katamu, aku akan menghabiskan waktu berlama-lama disana, seperti yang kau lakukan dulu setiap kita pergi bersama, dan aku menunggu dengan kesal sambil sesekali membuka buku tanpa membacanya. Hey kau tau?
Aku membeli sebuah buku puisi yang kau inginkan sejak lama, waktu itu stoknya habis, kau bilang kita akan kesini lagi, tapi aku ingkar terhadapmu, kau terlanjur kecewa.
Atau,
....atau, Aku akan menemuimu; diatas bianglala ketika langit berwarna merah muda, merapal do'a dengan harapan kau datang tanpa sengaja, aku penakut dengan ketinggian, hanya karena kau merengek ingin naik bianglala, aku jadi manusia berani yang memendam rasa takutnya demi kau berhenti menekuk wajahmu.
Ini tujuan terakhirku, kalau sampai matahari terbenam, tidak pula kutemui kau, aku akan pulang, aku akan menemukan dekapmu yang telah lama kuabaikan--entah dimana pun.
Aku akan menawarkan sebuah payung untukmu yang menggigil diterpa hujan deras sejak pagi, aku tau kau akan menolaknya, kau akan pura-pura tak menyadari keberadaanku; yang dengan tega melepasmu saat itu, saat dimana tak ada telinga yang dengan jelas mendengar keluhmu, dada bidang yang dengan lapang menerima gusarmu.
Aku tau tidak ada yang lebih hangat dari kita yang tetap utuh, aku tau tidak ada yang lebih menyerap gigil dari kau yang terus menerus menahanku.
Dan,
.....dan, aku akan menemuimu dikerumunan manusia yang katamu bernyawa namun tak bisa diajak bicara, aku akan menelusuri kedai mie favoritmu selepas petang, mungkin aku tidak akan menyerah karena berkali-kali tidak pula kudapati kau duduk termenung disana,
aku akan memesan satu meja dengan kedua kursi yang saling berhadapan, membayangkan gerakmu yang seringkali harus menaruh duka sekian lama hanya karena aku memutuskan untuk membuat jarak diantara kita.
....selepas itu, aku akan mengunjungi toko buku langgananmu, mataku langsung tertuju pada stand buku yang tertumpuk jutaan puisi karya manusia bernyawa dan menyenangkan membaca celotehnya katamu, aku akan menghabiskan waktu berlama-lama disana, seperti yang kau lakukan dulu setiap kita pergi bersama, dan aku menunggu dengan kesal sambil sesekali membuka buku tanpa membacanya. Hey kau tau?
Aku membeli sebuah buku puisi yang kau inginkan sejak lama, waktu itu stoknya habis, kau bilang kita akan kesini lagi, tapi aku ingkar terhadapmu, kau terlanjur kecewa.
Atau,
....atau, Aku akan menemuimu; diatas bianglala ketika langit berwarna merah muda, merapal do'a dengan harapan kau datang tanpa sengaja, aku penakut dengan ketinggian, hanya karena kau merengek ingin naik bianglala, aku jadi manusia berani yang memendam rasa takutnya demi kau berhenti menekuk wajahmu.
Ini tujuan terakhirku, kalau sampai matahari terbenam, tidak pula kutemui kau, aku akan pulang, aku akan menemukan dekapmu yang telah lama kuabaikan--entah dimana pun.
•
•
•
Cikarang, Februari 2020.
Langganan:
Postingan (Atom)
Keliru
Keputusanku untuk jatuh hati padamu adalah sebuah kekeliruan yang bahkan tak pernah kusesali, bahkan hingga saat dimana kau tetap abai, aku...