Jumat, 02 Agustus 2019

:)

2 tahun berlalu. Nyatanya sesakku belum juga pulih. Dan saat itu, aku seolah punya pundak yang kokoh, telinga yang sudi dibuat gaduh, bahkan nyaris setiap malam. 
Aku bercerita banyak tentang hidupku, tentang seseorang yang kini singgah di hatiku, namun ingin sekali kulepaskan... Kau baik, mau tersita waktumu hanya karena aku yang merengek. Kau baik, mau ikut terbenam dalam luka-luka yang tak sepatutnya kau pedulikan. 

Lihatlah, betapa insecure nya aku saat itu, dan betapa repotnya kau terhadap aku. 

Dalam hitungan hari, ada beberapa keputusan yang kubuat; pertama, aku telah sadar betul pentingnya mencintai diri sendiri dan aku memutuskan meninggalkan semua luka, kedua, aku melapangkan hatiku seluas mungkin atas kemungkinan terburuk yang akan terjadi, dan ketiga, aku menjatuhkan hatiku.... padamu.


Sejak saat itu, mengutarakan sesuatu menjadi hal paling luarbiasa, membiarkan kau tau tepian hatiku telah sampai padamu--kali pertama obrolan kita membekas di dadaku. Dan kejujuran jadi nilai tambah bagi seseorang. Aku tanamkan itu sampai saat ini. 
Kita memihak pada waktu yang kita anggap benar, kita memilih dekat, sangat dekat, walaupun hitungan jarak tak sedekat yang kita bayangkan. Sungguh, aku tak pernah memintamu untuk meninggalkan kekasihmu, terlebih lagi dia selalu kau bangga-banggakan dalam setiap baris chat yang kau kirim. Tapi semesta berkata lain, kau mengalihkan pandangmu kepadaku, perempuan cengeng yang bisanya hanya membahas cecintaan. 

Aku sempat tidak yakin dengan hubungan jarak jauh, dengan kesungguhan yang kau sampaikan dalam jangka waktu yang sangat pendek. Namun, alih alih meminta kau pergi, aku malah membiarkan kau ada setiap waktu. 

Percayalah, aku jadi pemberani sejak saat kau hidupkan lagi aku. 

"Aku mau terus jujur bagaimanapun keadaannya" kau tersenyum manis mendengar ucapku, terdengar tawa halusmu dari ujung telepon. 

Sampai detik dimana aku semakin percaya, semakin mau menghilangkan curiga, ego, kau justru diam-diam mematahkan harapku yang terlanjur membumbung tinggi. Katamu, aku harus tetap percaya. percaya atas semua kesalahan yang kau ulangi terus menerus? 
"Aku mau terus jujur sekalipun kau tak suka" suaraku terdengar sangat kencang dibalik teleponmu. 





Petang ini, aku menyendiri, menuai harap dan membuangnya jauh-jauh. 
"Aku mau terus jujur........." kataku pada diriku sendiri. 







Cikarang, 2019

:)

Jauh sebelum bertemu denganmu, aku pernah berharap sangat dalam pada seseorang, dan harapanku tak berbuah manis. Aku pernah merelakan bahagiaku yang hampir sempurna demi dia yang kukira akan membawaku lari dari ketidaknyamanan ini. Dan begitu pula dengan semua yang kukorbankan demi bisa meraihnya. Padahal cukup mudah, hanya saja ia yang tak mau diraih--mengelak atas kesepakatan yang telah kami setujui, lalu dia mengingkari dengan mudahnya. 

Sepekan setelah cincin melingkar dijariku, aku masih mengutarakan janji pada seseorang lain, bahkan yang tidak pernah berani menemui orangtuaku atau sekedar berkunjung. Aku berdusta pada perasaanku, aku telah berbohong pada tiap-tiap hati yang tulus. Hingga akhirnya, beberapa bulan telah aku lewati dengan keraguan yang amat besar, dengan kerinduan yang tak seharusnya aku ingat sampai detik itu, kerinduan akan seseorang yang memutuskan pergi disaat aku masih berusaha merayu Tuhanku sambil  menangis-nangis.

Di penghujung tahun, aku merelakan bahagia demi bahagia yang fana, demi dia yang baru kukenal. Dia datang memberiku harapan, menunjukanku betapa asyiknya obrolan manusia yang usianya tak terpaut jauh--bukan obrolan yang itu itu saja. Dia mengacaukan akal sehatku, mengambil keputusan secepat kilat demi bersamanya. 

Separuh warasku direnggutnya, bagaimana mungkin aku yang telah siap didatangi banyak orang hanya untuk mengantarkan seorang lelaki berani, begitu tega menggantinya dengan manusia antah berantah yang menyuguhkan harap serta nyaman yang terlampau batas. 

Dan setelah ia memilih pergi, tanpa mau tau betapa hancurnya aku, aku masih tetap mengusahakannya pada Tuhan. Kekeliruan yang kubuat atas dasar ketidakwarasanku saat itu memang betul betul mengecewakan banyak kepala. 

Hingga pada akhirnya, aku kehilangan yang satu; lelaki berani dan taat pada Tuhannya. dan yang satunya menghilangkan dirinya sendiri dari hadapku. 

Kini aku tumbuh lebih waspada. Aku mau lebih perempuan; punya hati dan logika, yang keduanya dipergunakan sebagaimana mestinya. 





Cikarang, 2019

Keliru

Keputusanku untuk jatuh hati padamu adalah sebuah kekeliruan yang bahkan tak pernah kusesali, bahkan hingga saat dimana kau tetap abai, aku...