2 tahun berlalu. Nyatanya sesakku belum
juga pulih. Dan saat itu, aku seolah punya pundak yang kokoh, telinga
yang sudi dibuat gaduh, bahkan nyaris setiap malam.
Aku
bercerita banyak tentang hidupku, tentang seseorang yang kini singgah
di hatiku, namun ingin sekali kulepaskan... Kau baik, mau tersita
waktumu hanya karena aku yang merengek. Kau baik, mau ikut terbenam
dalam luka-luka yang tak sepatutnya kau pedulikan.
Lihatlah, betapa insecure nya aku saat itu, dan betapa repotnya kau terhadap aku.
Dalam
hitungan hari, ada beberapa keputusan yang kubuat; pertama, aku telah
sadar betul pentingnya mencintai diri sendiri dan aku memutuskan
meninggalkan semua luka, kedua, aku melapangkan hatiku seluas mungkin
atas kemungkinan terburuk yang akan terjadi, dan ketiga, aku menjatuhkan
hatiku.... padamu.
Sejak
saat itu, mengutarakan sesuatu menjadi hal paling luarbiasa, membiarkan
kau tau tepian hatiku telah sampai padamu--kali pertama obrolan kita
membekas di dadaku. Dan kejujuran jadi nilai tambah bagi seseorang. Aku
tanamkan itu sampai saat ini.
Kita memihak pada
waktu yang kita anggap benar, kita memilih dekat, sangat dekat, walaupun
hitungan jarak tak sedekat yang kita bayangkan. Sungguh, aku tak pernah
memintamu untuk meninggalkan kekasihmu, terlebih lagi dia selalu kau
bangga-banggakan dalam setiap baris chat yang kau kirim. Tapi semesta
berkata lain, kau mengalihkan pandangmu kepadaku, perempuan cengeng yang
bisanya hanya membahas cecintaan.
Aku
sempat tidak yakin dengan hubungan jarak jauh, dengan kesungguhan yang
kau sampaikan dalam jangka waktu yang sangat pendek. Namun, alih alih
meminta kau pergi, aku malah membiarkan kau ada setiap waktu.
Percayalah, aku jadi pemberani sejak saat kau hidupkan lagi aku.
"Aku mau terus jujur bagaimanapun keadaannya" kau tersenyum manis mendengar ucapku, terdengar tawa halusmu dari ujung telepon.
Sampai
detik dimana aku semakin percaya, semakin mau menghilangkan curiga,
ego, kau justru diam-diam mematahkan harapku yang terlanjur membumbung
tinggi. Katamu, aku harus tetap percaya. percaya atas semua kesalahan
yang kau ulangi terus menerus?
"Aku mau terus jujur sekalipun kau tak suka" suaraku terdengar sangat kencang dibalik teleponmu.
Petang ini, aku menyendiri, menuai harap dan membuangnya jauh-jauh.
"Aku mau terus jujur........." kataku pada diriku sendiri.
Cikarang, 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar