Senin, 21 Mei 2018

Beranda (pacar baik #1)

Malam itu. Di beranda rumahku. Aku menatap wajah asing yang baru kukenali beberapa hari terakhir, meneduhkan sekali, beranda jadi terasa mengasyikan padahal aku tak pernah suka keluar kamar. Cahaya permukaan beranda redup, seperti kita; sepasang manusia yang diam-diam gugup. Mencoba mencari-cari degup yang belum ditentukan. 

Aku masih sendiri sampai setelah ku putuskan kekasihku demi memiliki berjuta lelucon darimu yang membuatku kepikiran setiap malam, kok ada ya lelaki macam kamu, spesial sekali Tuhan mengirimnya untukku. 


Berandaku semakin redup, pertanda bulan mulai katup tertutup kabut. Namun nyatanya kita masih terdiam, kau samasekali belum memulai.

 Kuperhatikan lamat lamat, kau kewalahan dengan rasa yang kau tanggung belum sempat terungkap, aku terdiam menunggu debar jantungku berbalas.Dan akhirnya, kita menepi dalam keterdiaman, mencoba menerka perasaan satu sama lain, mencoba mengartikan setiap tatapan yang terlempar dari dalam kornea. 


60 menit sudah terlewati. Dan akhirnya, kebisuan itu lenyap. Katamu, kau suka kedua pipiku, seperti bakpao, jika boleh pun akan kau gigit, barangkali ada lumeran coklat didalamnya. Aku tersipu, lagi lagi aku menjadi pendiam, padahal sebelumnya kita bisa sedekat ini karena sering bicara, bicara apa saja bahkan yang tidak penting sekalipun. 


"Kamu naksir aku sejak kapan?" tanyamu memecah kesunyian. Aku kaget. Mengapa pertanyaan seperti ini datang disaat yang tidak tepat, tunggu reda dulu degup ini, baru boleh kau serang aku dengan tanya retoris itu. 

Sepertinya kau tidak butuh dijawab, aku bersandar saja di pundakmu, sejauh itulah aku mulai merasa aman dan jatuh dalam dalam. 

"Jadi kau senang jika digoda?" tanyamu lagi lagi memecah suasana hening. Aku mengangguk. Aku benar-benar teracuni dengan gaya bercandamu. Perempuan mana yang tidak suka dibercandai, lebih lebih lagi kau sisipkan syair syair konyol yang membuatku tertawa geli. Baiklah aku tertawa sekarang. Hahahaha. 


"Darimana kau belajar bersyair seperti itu?" aku bertanya serius. Kedua mataku menginginkan jawaban. 

"Dari websitemu hahaha. Aku kan stalker handal. Kalau tidak, bagaimana mungkin kau bisa jatuh cinta" pungkasmu tertawa puas. Cubitanku mendarat tepat di lenganmu. Kau mengaduh kesakitan. Aku tertawa, kau ikut menertawai aku. 



Begitulah malam sunyi kuhabiskan di Beranda rumahku, tapi tak lagi sunyi karenamu. Sampai akhirnya kami resmi jadi sepasang manusia yang tak lagi hidup dalam keterdiaman perihal perasaan.

Cikarang, 15 April 2018. Ketika lampu-lampu tidak lebih terang dari bola matamu.

Keliru

Keputusanku untuk jatuh hati padamu adalah sebuah kekeliruan yang bahkan tak pernah kusesali, bahkan hingga saat dimana kau tetap abai, aku...