Sajak Sajak untuk S
Kepada S,
aku merekam jelas saat pertama tatapmu jatuh kepadaku,
aku menyimpan rahasia bahkan tidak seorangpun tau, apalagi kamu
berpuluh malam aku berkutat pada sajak sajak yang bahkan belum kumulai, dari kali pertama tak bisa lupa, hingga sekarang tak mampu kemana-mana.
S, rasanya sudah tak perlu aku berjalan semauku, rasanya sudah tak ada lagi yang aku cari,
setiap kali aku hendak berlalu, kau lalu lalang di kepalaku,
setiap kali aku mencoba tak peduli, kau datang lagi dan lagi
sepekan kemudian, aku memasrahkan apa-apa yang nyatanya memang harus tetap disini; perasaan yang kukira akan memudar, justru kian berpendar, menyebalkan memang, saat kau memilih mengabaikan semua gerakku, aku tetap bersikukuh ingin denganmu.
Tuan S,
aku ingin pagi, sore, malam ada kau didalamnya, aku ingin merengek perihal jam tidurku yang belum kembali normal, aku ingin mengadu tentang siklus datang bulanku yang sudah membaik, aku ingin ke atas awan naik campervan yang sudah kau modifikasi dengan sangat apik,
aku mau jadi tahun-tahunmu, aku mau merayakan apapun, aku mau makan mie instan, aku mau menyediakan teh manis dengan sedikit gula di teras kita sembari menanti surya tenggelam.
aku mau, aku mau denganmu, Tuan S.
S,
kalau nanti, kita punya dimensi yang berbeda tentang hidup bersama, aku mau berada dalam dekapmu--fantasi terasyik yang tak pernah kuduga.
Cikarang, 21 April 2020.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar